ospek

Ospek Kejam, Udah Ngga Zaman

Brilly El-Rasheed Akhlak Muamalah, Kontemporer, Tsaqafah 15 Comments

Kegiatan yang satu ini seringkali menjadi momok bagi para pelajar yang baru masuk ke sebuah lembaga pendidikan formal. Perasaan takut terbias di wajah-wajah mereka. Ya, OSPEK (Orientasi Studi dan Pengenalan Kampus). Hampir seluruh lembaga pendidikan formal, mulai SMP, SMA, hingga perguruan tinggi di seantero Indonesia, setiap awal tahun ajaran baru, pasti mengadakan “hajatan” lokal ini. Tidak afdhol katanya kalau tidak merayakannya. Bahkan, sedari awal ospek selalu saja jadi agenda wajib sekaligus hiburan bagi para senior angkatan.

Kegiatan ini, jika direnungkan betul-betul, sambil flashback, menilik fakta-fakta yang ada selama ini, akan tampak sebagai aksi anarkis, biadab, kezaliman, penghinaan, terorisme, dan deviasi (penyimpangan) terhadap Syariat Islam. Ingat, terorisme itu tidak cuma pengeboman, pembunuhan massal, atau perompakan, tapi secara bahasa teror adalah segala tindakan menebar ketakutan. Ok lah, kalau para aktivis OSPEK itu nonMuslim, sisi deviasi terhadap Islam bisa diabaikan, tapi tetap saja sisi negatif lainnya tidak bisa dikesampingkan. Sudah menjadi kesepakatan tidak tertulis, tindak kezaliman dan semacamnya itu sampai kapan pun tidak dibolehkan.

Lucunya, untuk menutupi sisi kejahatannya, jadilah OSPEK gonta-ganti nama. Pekan Orientasi Studi (POS) lah, Pengenalan Kehidupan Ilmiah Kampus lah, Pengkaderan, Pendampingan, Pembinaan Mental lah, dan masih banyak istilah yang dibuat sesopan mungkin. Tujuannya sih, biar tidak ada yang menghujat. Tapi tetap saja, sepandai-pandainya orang menyimpan bangkai, pasti akan tercium juga. Kalau OSPEK atau apa lah namanya, masih berbau kriminal, pasti akan banyak yang menolak. Sekali kejahatan, tetap kejahatan, sampai OSPEK jadi kegiatan yang murni positif.

Secara legal formal, (cieee, serius amat) OSPEK sudah dihapuskan, sejak masih bernama Mapram atau Mapras, dengan SK Menteri P dan K No. 043 / 1971 yang melibatkan 23 instansi, dari Departemen P dan K  sampai Bappenas. Mapram terus berevolusi jadi POS, berevolusi lagi jadi OS (Orientasi Studi), dan yang terakhir namanya jadi OSPEK. Karena masih banyaknya korban kriminalitas OSPEK, keluar deh Surat Edaran Dirjen Dikti Departemen Pendidikan dan Kebudayaan No. 1539/D/I/1999 yang dengan tegas bin jelas, melarang praktek perploncoan, dalam surat yang disahkan pada 17 Juni 1999.  Puncaknya, sejarah “keemasan” OSPEK (seharusnya) berakhir dengan dikeluarkannya SK Dirjen Dikti No.38/Dikti/2000 yang menghapus OSPEK dan menyerahkan prosesi pengenalan kehidupan kampus itu pada kampus yang bersangkutan, sekaligus memberi warning agar lebih menekankan pada kegiatan akademis, bukan anarkis.

Tapi ya namanya manusia, apa artinya selembar kertas SK kalau tidak dibarengi dengan semangat perbaikan yang tinggi dari masyarakat kampus khususnya mahasiswa? Terbukti sampai saat ini perploncoan itu masih saja dijadikan tradisi tahunan. Bandel amat sih pelajar Indonesia itu. Kita lihat saja, korban-korban OSPEK ini tidak bisa dihitung lagi, saking banyaknya. Nyawa, kesehatan, kehormatan, keperawanan, harta, bahkan keimanan dan keislaman, melayang gara-gara OSPEK. Konyol kan? OSPEK yang katanya untuk pengenalan kehidupan kampus dan persiapan untuk jadi pelajar sukses, malah berbuntut keburukan bagi masa depan pelajar itu sendiri.

“Musik” Klasik

Minimal ada 4 alasan klasik (kalau tidak mau disebut alibi atau kedok) yang selalu menjadi jawaban andalan ketika perploncoan dikritisi. Pertama, agar tidak ada jarak antara mahasiswa baru dan lama. Kedua, meningkatkan solidaritas sesama mahasiswa baru. Ketiga, membangun kekuatan mental. Keempat, mempersiapkan para pelajar baru untuk menjadi pelajar yang tangguh, prestatif, dan pretisius.

Jujur saja, buat kamu-kamu yang ngotot OSPEK harus tetep ada, sudahkah OSPEK berhasil mewujudkan minimal keempat tujuan ini? Kalau mau jawab dengan hati yang jernih, OSPEK selama ini malah menunjukkan sisi negatifnya. Sebagai contoh; Pertama, tidak edukatif, karena seringkali para mahasiswa baru disuruh untuk mengerjakan tugas yang tidak jelas manfaatnya, tidak logis, melelahkan, dan membuang waktu secara sia-sia. Kedua, merendahkan martabat para mahasiswa baru. Ketiga, kental nuansa anarkisnya, yang sebenarnya cukup untuk dimasukkan sebagai bentuk pelanggaran HAM. Keempat, memupuk mental pengecut dan balas dendam. Kelima, melanggar hukum, etika, ajaran agama manapun, dan mencoreng budaya Indonesia. Keenam, melanggar kaidah hidup berdemokrasi, karena para mahasiswa baru tidak diberikan kebebasan dalam banyak hal, seperti kebebasan bersuara, kebebasan mengemukakan pendapat, kebebasan untuk menolak, dan kebebasan untuk menyanggah pernyataan. Ketujuh, menyita waktu, utamanya mahasiswa yang muslim. Bayangin dech, gara-gara ospek, mahasiswa muslim, jadi berkurang banyak waktunya buat ibadah, shalat fardhu jadi keteteran, apalagi shalat malam, malah kedodoran, upss, emangnya celana. Ini baru beberapa contoh penyimpangannya.

Alternatif OSPEK yang Efektif

Kalau niat tulus dan tekad sudah bulat untuk berubah menjadi OSPEK yang baik dan efektif, tentu seluruh pihak akan berpikir keras mencari kegiatan substitusi bagi OSPEK, dan pasti akan ketemu. Mustahil bin ajaib kalau tidak ketemu, lha wonk sudah bertitel mahasiswa. Kata pepatah Arab, “Man jadda, wajada,” Siapa sungguh-sungguh meraih sesuatu, dia pasti akan mendapatkannya.

Di antara kegiatan yang bisa efektif menggantikan OSPEK misalnya, Outbound Training. Kegiatan ini sangat efektif untuk memecah kebekuan antar mahasiswa baru menjadi kondisi yang sangat hangat, akrab dan tanpa jarak, dan yang nomor wahid tidak akan ada pihak yang merasa dilecehkan atau pun dirugikan. Untuk melatih daya kritis, bisa dengan metode andragogi, yaitu pelibatan langsung mahasiswa baru terhadap kondisi realitas sosial masyarakat. Konkritnya, diajak bakti sosial, bersih-bersih area kampus sebagai wujud kepekaan terhadap lingkungan, penamaman seribu pohon, penyebaran pamflet Anti Narkoba, Freesex, berkunjung ke pemukiman orang-orang kurang mampu, membuat proyek ringan terkait kemanusiaan, dan sebagainya.

Atau dengan mengadopsi dan memodifikasi metode pesantren kilat, yang tentu saja tidak sekedar mendengar ceramah tetapi interaktif, karena materinya yang memang banyak mengeksplorasi kemampuan para mahasiswa, seperti materi potensi diri, possitive thinking, manajemen pribadi, dan lain-lain. Bisa juga dengan mengadakan kegiatan OSPEK yang murni ditambah dengan DIKLAT. Masih banyak lagi, ide-ide alternatif untuk menggantikan OSPEK yang selama ini tidak humanis dan berbau kriminal, baik yang halus sampai yang terang-terangan. Masih banyak kegiatan yang lebih efektif untuk mempersiapkan para mahasiswa baru menjadi mahasiswa yang sukses, tangguh, prestatif, dan prestisius.

Berantas Sampai ke Akarnya!

OSPEK yang tidak humanis atau yang biasa disebut perploncoan, sama seperti korupsi. Keduanya ibarat kanker ganas stadium akhir. Cara yang paling efektif mengatasinya adalah dengan amputasi. Sebuah langkah pasti harus dilakukan dalam upaya menghapus budaya perploncoan. Tidak hanya karena kita ingin tidak lagi mendengar berita duka dari ekses perploncoan, tetapi lebih dari itu, karena kita tidak ingin tekad reformasi yang telah digalang dengan penuh pengorbanan, darah, dan air mata menemui kegagalan hanya karena dikhianati oleh mahasiswa primitif bin jadul alias kolot yang ‘gagap perubahan’.

Dan kalau dipikir-pikir benar juga kata orang bahwa OSPEK ini sejatinya adalah tradisi peninggalan penjajah bangsa kita yang paling kejam, yap, tepat, Belanda. Jadi, mahasiswa yang masih saja ngotot ngadain OSPEK versi teror mental dan fisik itu hanya mahasiswa yang primitif, jadul, kolot, kuno, ga tahu perkembangan zaman.

Kalau buat yang ngaku beragama Islam sih, pasti sudah pada paham, Muslim itu wajib taat sama Pemerintah yang sah. Dilarang keras membelot apalagi memberontak. Selama perintah dari Pemerintah itu dalam koridor tidak melanggar Syariat Islam. Kalau Pemerintah sudah melarang OSPEK versi teror mental dan fisik, ya sudah, dengar dan taat. Tidak usah lagi OSPEK. Ganti dengan yang bermanfaat dan aman.

Alhasil, OSPEK versi teror mental dan fisik itu sudah jadul (jaman dulu) banget, primitif, sudah ga zamannya lagi. OSPEK ga pake okol, tapi pake akal. Sekarang zamannya OSPEK yang versi edukatif dan progresif. Setuju?

Surabaya, 30 Dzul Qa’dah 1431

Ditulis oleh Brilly El-Rasheed (brillyyudhowillianto@gmail.com)

Copy Right © 1431 Brilly El-Rasheed

Disebarkan oleh www.thaybah.or.id

(1) Pimred majalah TAUHIDULLAH; (2) Pimred majalah dan buletin AS-SHOLIHIN, (3) redaktur pelaksana majalah AL-AKHBAR, (4) editor dan layouter majalah AL IHSAN, (5) reporter majalah MEDIAN LPMP Jawa Timur, (6) kontributor lepas majalah AR-RISALAH, (7) kontributor tetap majalah LENTERA QOLBU, (8) kontributor lepas di majalah ELFATA, (9) editor in chief majalah digital QUANTUM FIQIH, (10) konseptor dan mantan redaktur pelaksana majalah FITHRAH, (11) mantan layouter sekaligus pimred buletin Jum’at THAYBAH, (12) redaktur penerbit PT. EFMS, (13) admin salah satu situs berita Islam Nasional dengan 20.000 visit/hari), (14) online marketing UD. SBY CORPORATION, (15) pengasuh situs THAYBAH.ID, (16) promotor penerbitan majalah donatur, (17) redaktur pelaksana majalah SUARA MASKUMAMBANG, (18) redaktur pelaksana majalah SEJAHTERA dan buletin jumat YATIM SEJAHTERA, dan (19) mengasuh 2 website dan belasan blog keislaman yang ‘hidup segan mati tak mau’ sebagai salah satu cara merehatkan diri, serta (20) penulis buku GOLDEN MANNERS, KUTUNGGU DI TELAGA AL-KAUTSAR, MENDEKAT KEPADA ALLAH, QUANTUM IMAN, yang bisa Anda dapatkan di Gramedia atau toko buku lainnya.

Rekomendasi Artikel

Comments 15

  1. Tafadhdhol, monggo dikopi sebanyak-banyaknya, dibagiin ke temen-temen biar kampus-kampus ga kejam lagi. Kampus kok kejam? Mahasiswa kok kejam? Muslim kok kejam? Jangan bikin-bikin alasan buat pendidikan. Nabi aja ga pernah kejam sedikitpun, terlebih dalam pendidikan. Bahkan tetap berbuat adil kepada nonmuslim yang memerangi Islam dan kaum muslimin.
    Mencari-cari alasan biar bisa ninggalin taat kepada syari’at itu faktor-faktor kebinasaan dan kehancuran umat dan bangsa.

    1. saya mendukung artikel ini
      sudah bukan jamannya yang seperti itu
      sekarang yang penting sekolah nanti cari uang yang banyak gimanapun caranya dengann peluang apapun bisa jadi uang
      ya,nanti kl sudah pintar bisa hubuungi saya,saya tidak suka orang idealis,karena itu akan menghancurkann karir saya sebagai koruptor
      Yang saya butuhkan orang-orang yang setuju ataupun sepemikiran dengan artikel ini,yang pokoknya asyik enak hidup nyaman bahagia tentram pokoknya ikut apa kata orang yang mengatasnamakan agama tanpa di filter.SELAMAT KALIAN CALON ANTEK-ANTEK SAYA NANTI!!!

  2. MAsalahnya,apakah semua seperti itu??
    Lihat apa nilai positif yang dihasilkan..
    Tidak dipungkiri kalau memang ada oknum dengan cara mengkader yang salah..
    Tapi saya juga tidak setuju dengan apa yang anda katakan.. Lihat dulu siapa yang mengkader..Kesiapan dan persiapan untuk materi agar membentuk sosok idealis yang kuat..
    Kita memerlukan kader dengan karakter yang benar-benar kuat bermental baja,yang nantinya menjadi calon pemimpin bangsa dengan sosok yang kuat..tidak mudah terombang-ambingkan dengan isu-isu murahan yang mengatasnamakan agama..Tegakkan nilai-nilai luhur bangsa kita..
    SAYA JUGA MUSLIM..TAPI SAYA TAHU DIMANA KITA MENEMPATKAN KEPENTINGAN UNTUK KEMASLAHATAN BERSAMA..

    1. memangnya anda tidak bisa menggantinya dengan renungan saja tetapi sangat berkualitas sesuai agama masing2

      DAN tidak usah MEMBAWA BARANG yang aneh – aneh

  3. Mungkin anda tidak mengikuti perkembangan OSPEK yg ada di campus, hal-hal negatif yg seperti disebutkan sudah hampir tidak ada. Sedangkan Alternatif yg anda berikan itu udah dimulai 2 tahun yang lalu, jadi kalau ospek dihentikan saya rasa itu pemikiran yang sempit.
    Sebaiknya jika menulis sebuah tulisan harus sesuai fakta yang ada dilapangan dan tidak mengakibatkan fitnah, ini sangat disayangkan karena mengatasnamakan mahasiswa muslim.

  4. Ospek tidak perlu dihapus, Kekejaman dalam ospeklah yang HARUS dihapus. Pahami lagi judulnya! ospek KEJAM udah ngga zaman jadi yang ngga zaman itu ospek yang kejam, ospek yang humanis lah yang lagi trend. Fahimtum?

  5. Syukron ya akhi…artikel ini sangat bagus dan sangat cocok untuk menjadi referensi bagi mahasiswa yang ingin mengOSPEKi maba.

  6. Bismillah…
    Di kampus ana, yang namanya kedzaliman di dalam ospek masih terjadi. Tahun ini (agustus 2011) yang menjadi ketua ospek fakultas non muslim. Begitu pula dengan koord Evaluator juga seorang non muslim. Bagaimana sikap saya sebagai seorang muslim yang selayaknya dilakukan melihat kondisi itu?
    Syukron Katsir . . .

  7. Ya memg bgt yg trjdi, mrka anggap hal tsb sebagai kebajikan, inilah kejahiliahan yg amat jahil ketika keburukan dianggap kebajikan…

  8. Oh come on!! Sudah bukan jamannya lagi berlaku seperti itu. Itu hanya peninggalan para kolonialis dulu yang sudah semestinya ditinggalkan. Budaya level-levelan sudah ga jaman!

    Dan tragisnya, ospek dengan gaya seperti ini sepertinya hanya berlaku di Indoesia saja. Oh poor students here, seriously!!

    Ok!! Karena sempat kuliah di luar negeri, tepatnya di Amerika. Ga da salahnya dong saya sedikit memberi gambaran gimana ospek disana.

    Oh guys!! lebih parah!!

    Hell no!! Ospek disana adalah ospek dengan sistem kekeluargaan.

    Kampus-kampus di US sudah maju seribu langkah dari kampus2 di Indonesia pada umumnya dalam hal ospek mengospek ini. Tak ada yang namanya SENIORITAS! Semuanya sama.

    Lalu apakah para freshmen disana harus memakai pakaian seperti badut dan aksesorisnya ketika masa orientasi disana?

    No!! Definitely no!

    Sebenarnya tidak ada hari yang sangat khusus untuk orientasi dikarenakan mahasiswa baru yang masuk sangat banyak. Bisa lebih dari 10.000 mahasiswa. Jadi seringnya mereka dibagi dalam beberapa gelombang. Lagian, hari pertama kuliah, mereka sudah harus masuk kelas. Setiap gelombangnya bisa berisi ratusan mahasiswa baru yang dibagi-bagi lagi dalam kelompok kecil.

    orientation is USA -courtesy of brobible.com

    Lalu apa saja kegiatannya?

    Sederhana saja. Biasanya mereka diperkenalkan dengan lingkungan kampus yang tentunya sangat besar. Kelompok-kelompok tadi diajak keliling kampus. Terus mereka mengantri pembuatan ID card, mengurus housing, one on one with a tutor untuk membimbing mereka mengenai jurusan apa yang tepat untuk mereka, jangan sampai mereka salah ambil jurusan. Diperkenalkan dengan dengan sistem kampus dan sebagainya.

    Ada satu hari dimana mereka semua berkumpul di lapangan besar, tidak semuanya sebenarnya karena dibagi-bagi lagi agar lebih effective. Mereka diperkenalkan dengan peraturan kampus dalam suasan yang ringan dan menyenangkan. Tak ada ceramah dari pihak ini dan itu yang membuat kita mengantuk.

    Hoam…

    Nah uniknya lagi, para orang tua mahasiswa baru itu boleh bergabung. Bahkan mereka diperlakukan sangat istimewa. Selain itu bank-bank lokal juga mengadakan semacam penyambutan kecil bagi mereka yang ingin membuak account baru, khusunya untuk mahasiswa international dengan hidangan pizza for free dan berbagai door prize.

    Tersedia juga shuttle yang membawa mahasiswa ke mall-mall terdekat untuk berbelanja kebutuhan di dorm atau apartemen. Para mahasiwa baru dan lama yang tidak membawa kendaraan sendiri disambut dengan shuttle-shuttle tadi dari terminal bus untuk di antar ke kampus.

    Setelah mereka memilih dan tinggal di dorm, bakal ada semacam perkenalan dengan pihak CA (Community Advocate) dorm terntentu dan penghuninya. Saling berkenalan dan tentunya free food. Ada juga permainan sebagai ice-breaking. Untuk mahasiswa international ada lagi hari khusus untuk event ini.

    Pada hari terakhir, kita semua di ajak pelesiran atau tour ke tempat-tempat menarik disekitar kampus dan town. Sangat menyenangkan karena dalam moment-moment seperti itu kita bisa menambah banyak teman. Pada malam terakhir diadakan semacam party. Hohohoh.. countless of free food and fun for sure!!

    Lalu apa peran para senioritas disana? Haruskan kita hormat? Akankah kita dihukum ketika kita menyalahi peraturan?

    No need to worry!! Tak ada hal-hal konyol seperti itu. Tak ada senior disini. Yang bertugas membantu mahasiswa baru itu boleh siapa aja secara sukarela. Dengan kata lain, mereka itu lebih tepat dibilang temen atau mentor daripada senior yang harus di puja dan di hormat.

    http://greatpersie.wordpress.com/2012/09/03/senioritas-level-dewa

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*