takdir

Anomali Taqdir

Brilly El-Rasheed Aqidah 0 Comments

Benar bahwa taqdir adalah misteri. Taqdir adalah rahasia ilahi. Hanya Allah yang mengetahui. Allah lah yang menentukan taqdir setiap ciptaanNya. TaqdirNya berlaku mutlak. Tidak ada yang bisa terlepas dari taqdirNya. Semua ciptaan terikat dengan taqdirNya. Sampai pun manusia yang dikaruniai Allah kehendak dan kemampuan untuk berbuat sesuai kehendaknya sendiri. Namun seperti yang Allah katakan, “Dan tidaklah mereka (dapat memenuhi) kehendak kecuali jika Allah menghendakinya.” [Al-Qur`an surah Al-Insan ayat no. 30] Manusia memiki keleluasaan untuk berbuat, namun ia tidak bisa melakukan apa yang ingin ia perbuat kecuali Allah telah menaqdirkannya.

Demikianlah konsep taqdir. Semua yang ada telah Allah tetapkan taqdirnya. Tidak ada yang bisa mengubah taqdirNya sejak taqdir itu ditetapkan, kecuali Allah Ta’ala. Namun dari satu sisi taqdir Allah ibarat air. Taqdir memiliki keadaan anomali seperti air pada suhu tertentu mengalami apa yang disebut anomali air. Taqdir mengalami anomali pada tiga keadaan; ketika seorang muslim berdoa, ketika seorang muslim menghubungkan kekerabatannya, dan ketika ada ‘ain.

Doa Mampu Mengubah Taqdir

Nabi Muhammad berkata,

لا يرد القضاء إلا الدعاء ولا يزيد في العمر إلا البر

Tidak ada yang menolak ketentuan Allah kecuali doa. Dan tidak ada yang menambah umur kecuali kebaikan.” [Hasan: Silsilah Al-Ahadits Ash-Shahihah no. 154; Shahih Sunan At-Tirmidzi no. 2139]

Dari Tsauban, Nabi Muhammad berkata,

لا يزيد في العمر إلا البر ولا يرد القدر إلا الدعاء وإن الرجل ليحرم الرزق بخطيئة يعملها

Tidak ada yang menambah umur kecuali kebaikan dan tidak ada yang menolak taqdir kecuali doa. Dan sesungguhnya seseorang diharamkan mendapatkan rizqinya karena dosa yang dia lakukan.” [Hasan: Sunan Ibnu Majah no. 87; Al-Mustadrak 1/493. Shahih Sunan Ibnu Majah no. 73; Shahih At-Targhib wa At-Tarhib 2/129]

Oleh karena statemen ini keluar dari lisan yang tidak berasal dari hawa/bisikan pribadi, namun dari wahyu semata, maka kita wajib meyakininya, meski jika kita timbang dengan akal kita, seolah ini bertentangan dengan konsep taqdir yang tidak bisa diganggu gugat. Padahal keadaannya tidak demikian. Bahkan ini tidak bertentangan sama sekali. Pasalnya Allah yang menetapkan taqdir segala sesuatu telah berjanji, dan Ia pasti memenuhi janjiNya, Ia tidak akan mengingkari janjiNya. Allah berfirman, “Dan Rabb kalian berkata, Berdoalah kepadaKu, niscaya Aku penuhi doa kalian..” [Al-Qur`an surah Ghafir ayat no. 60]. Allah juga berfirman, “Dan apabila hamba-hambaKu bertanya kepadamu (Muhammad) tentang Aku, maka sesungguhnya Aku dekat. Aku memenuhi permintaan orang yang meminta apabila ia meminta kepadaKu.” [Al-Qur`an surah Al-Baqarah ayat no. 186]

Dr. Shalih Al-Fauzan, salah seorang anggota Hai’ah Kibar Al-‘Ulama, KSA, menjelaskan masalah yang tampaknya rumit untuk dipahami ini. “Makna hadits ini ialah doa itu adalah sebab/jalan untuk mendapatkan kebaikan. Hal ini menunjukkan bahwa ada perkara-perkara yang telah ditentukan/ditaqdirkan tetapi diikat dengan sebab tertentu. Jika dipenuhi sebabnya, maka terwujudlah apa yang ditaqdirkan, namun jika tidak dipenuhi sebabnya, maka tidak akan terwujud (sebagaimana yang diharapkan). Jika seorang muslim berdoa kepada Rabbnya, maka dia akan mendapatkan kebaikan, dan jika tidak berdoa akan terjadi hal yang buruk baginya. Sebagaimana Allah menjadikan silaturrahmi sebagai sebab panjangnya umur, dan sebaliknya memutuskan silaturrahmi sebagai sebab pendeknya umur. Dan Allah lebih mengetahui yang benar.” [Al-Muntaqa` min Fatawa Al-Fauzan, 1/37]

Perlu diingat, tidaklah Allah menetapkan taqdir untuk ciptaanNya, kecuali taqdir tersebut adalah baik bagi ciptaanNya menurut Allah. Tidak ada taqdirNya yang buruk, sebagaimana tidak ada ciptaanNya yang buruk, sebab taqdir juga merupakan ciptaanNya.

Silaturrahmi Meluaskan Rizqi dan Memanjangkan Umur

Nabi Muhammad berkata, artinya, “Barangsiapa yang senang diluaskan rizqinya, dan dipanjangkan umurnya, maka hendaklah dia menyambung silaturrahmi (kekerabatan).” [Shahih: Shahih Al-Bukhari no. 5985, 5986; Shahih Muslim no. 2557; dan lainnya]

Dengan menyambung kekerabatan, rizqi anda semakin luas/banyak, umur anda juga semakin panjang. Anda mau? Tentu saja. Siapa yang tidak mau punya dikaruniai Allah rizqi yang melimpah dan memiliki usia yang panjang. Namun mungkin ada di antara kita yang tidak percaya akan janji Nabi di atas. Sebab tampaknya janji beliau bertentangan dengan ucapan beliau sendiri, “… kemudian diutus malaikat dan meniupkan ruh kepadanya (janin manusia), dan diperintahkan untuk menetapkan empat perkara; rizqinya, ajalnya, perbuatannya, dan dia sengsara atau bahagia.” [Shahih: Shahih Al-Bukhari no.6594; Shahih Muslim no.2643] juga bertentangan dengan firman Allah yang termaktub dalam Al-Qur`an, “Sesungguhnya ketetapan Allah, jika telah datang, tidak dapat ditangguhkan.” [Al-Qur`ajn surah Nuh ayat no. 4] “Maka apabila telah tiba waktu (yang ditentukan) bagi mereka, tidaklah mereka dapat mengundurkannya barang sesaatpun dan tidak pula dapat mendahulukannya.” [Al-Qur`ajn surah An-Nahl ayat no. 61] Dan firman Allah yang lainnya di dalam surah Ali ‘Imran ayat no. 145, Al-Hadid ayat no. 22, Al-Munafiqun ayat no. 11. Lantas, benarkan ucapan Nabi bertentangan dengan firman Allah? Padahal Nabi tidak berkata kecuali berdasarkan wahyu?

Ahli fiqih Islam abad ini, Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin (1347H-1421H) dari kota Unaizah, Propinsi Al-Qasim, KSA, dalam bukunya, Ushul fi Tafsir hal. 52-53 menasehatkan, “Jika anda mendapati ayat-ayat (dan hadits-hadits—pen) yang nampaknya kontradiksi, maka berusahalah untuk mengkompromikannya. Jika anda tidak mampu, maka serahkanlah kepada ahli di bidangnya.” Al-Hafizh Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah dalam Qashidah Nuniyyahnya no.2471-2472, menggubah syair,

Dan hadits-hadits Nabi itu tidak saling bertentangan

Maka bertanyalah kepada ulama zaman

Kalau engkau mendapati padanya pertentangan

Maka itu adalah dari buruknya pemahaman

Terkait hal yang tampaknya kontradiksi ini, master hadits abad ini dari Albania, Muhammad Nashiruddin Al-Albani (1333H-1420H), menguraikan kerumitan ini, “Hadits ini sangat jelas menegaskan bahwa silaturrahmi adalah sebab bertambahnya rizqi dan panjang umur. Hal ini tidak meniadakan kalau rizqi dan umur itu telah ditentukan, sebab keduanya telah ditentukan dengan sebabnya. Tidakkah anda perhatikan bahwa masuk surga dan neraka juga telah ditentukan. Sekalipun demikian, toh masuk surga dan neraka terikat dengan sebab keimanan dan kekufuran. Jadi maksudnya, silaturrahmi penyebab bertambahnya umur itu bukan berarti mengubah apa yang telah Allah tentukan sebelumnya, sebagaimana iman adalah sebab masuknya surga bukan berarti mengubah ketentuan Allah berupa kebahagiaan dan kesengsaraan, namun semuanya itu telah ditentukan Allah, baik sebab dan juga musababnya. Perhatikanlah penjelasan ini karena akan mencukupi anda dari penafsiran-penafsiran yang jauh dari kebenaran.” [Lihat Ta’liq Mukhtashar Shahih Muslim li Al-Mundziri hal. 466; Shahih Al-Adab Al-Mufrad hal.40; Silsilah Al-Ahadits Adh-Dha’ifah 4/514; Mukhtashar Shahih Al-Bukhari 2/21]

Asy-Syaikh Al-‘Utsaimin memberikan perumpamaan untuk memudahkan pemahaman, “Kalau ada orang punya umur 50 tahun apabila ia bersilaturrahmi menjadi 55 tahun. Apakah ini bertentangan? Tidak, karena umur 55 tahun itu sendiri juga telah ditetapkan Allah sebelumnya bahwa orang ini akan bersilaturrahmi. Demikian juga masalah rizqi. Namun tahukah manusia kapan ajalnya? Tidak tahu.” [Syarh Bulugh Al-Maram, kitab Al-Jami’, kaset no. 3/B]

‘Ain Bisa Mendahului Taqdir

Sehat dan sakit telah ditentukan Allah. Kapan saatnya seseorang sakit, dan kapan saatnya seseorang sehat, semuanya telah ditaqdirkan Allah. Namun ternyata realita mengatakan, ada orang yang tiba-tiba sakit, dan tak kunjung sembuh meski telah diobati. Setelah diingat-ingat, beberapa hari sebelum sakit, orang itu sempat dipandang oleh orang lain dengan pandangan yang aneh, tidak biasa.

Pandangan yang menyebabkan sakit atau bahaya lainnya ini dalam terminologi syariat Islam disebut ‘ain. Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-‘Asqalani menulis dalam masterpiecenya, Fat-h Al-Bari 10/210, “Pandangan mata, atau diistilahkan dengan ‘ain, adalah pandangan seseorang terhadap sesuatu yang dianggap bagus disertai dengan kedengkian yang muncul dari tabiat yang jelek sehingga mengakibatkan bahaya bagi yang dipandang.” Menurut beliau, ‘Ain dapat terjadi dari pandangan yang penuh kekaguman walaupun tidak disertai perasaan dengki (hasad). Demikian pula timbulnya ‘ain itu tidak selalu dari seseorang yang jahat, bahkan bisa jadi dari orang yang menyukainya atau pun orang yang shalih. [Fat-h Al-Bari 10/215] Lalu, benarkah ‘ain dapat menimbulkan bahaya? Benarkah ‘ain dapat mendahului taqdir?

Nabi Muhammad berkata, artinya, “Ain itu benar adanya. Seandainya ada sesuatu yang dapat mendahului takdir, tentu akan didahului oleh ‘ain. Apabila kalian diminta untuk mandi, maka mandilah.” [Shahih: Shahih Muslim no. 2188]

Dalam masterpiecenya, Al-Minhaj Syarh Shahih Muslim bin Al-Hajjaj 14/174, Al-Imam An-Nawawi, mengatakan, hadits ini menjelaskan bahwa segala sesuatu terjadi dengan taqdir Allah, dan tidak akan terjadi kecuali sesuai dengan apa yang telah Allah takdirkan serta didahului oleh ilmu Allah tentang kejadian tersebut. Sehingga, tidak akan terjadi bahaya ‘ain ataupun Isegala sesuatu yang baik maupun yang buruk kecuali dengan takdir Allah. Dari hadits ini pula terdapat penjelasan bahwa ‘ain itu benar-benar ada dan memiliki kekuatan untuk menimbulkan bahaya.

Kesimpulannya, ‘ain dan bahaya yang ditimbulkannya juga merupakan taqdir Allah. Kalau Allah tidak menaqdirkan ‘ain dapat menimbulkan bahaya, tentu ‘ain tidak dapat menimbulkan bahaya. Sebab semua manfaat dan bahaya ada di tangan Allah. Allah lah yang menentukan segalanya.

Penutup

Demikianlah anomali taqdir. Seolah taqdir mengalami anomali dalam tiga hal di atas. Namun sebenarnya tadqir tetaplah sesuai kehendak Allah. Tiga hal di atas juga merupakan taqdir Allah. Terakhir saya ingin memberikan dua buah ungkapan dari ulama Islam yang cukup indah.  Al-Imam Az-Zuhri berkata, “Syari’ah itu datangnya dari Allah ‘azza wa jalla. Kewajiban Rasulullah hanyalah menyampaikannya kepada manusia. Dan kewajiban kita hanyalah menerimanya.” [Shahih Al-Bukhari]

Asy-Syaikh Muhammad ‘Abdur Razzaq Hamzah berkata, “Tidaklah termasuk keadilan, jika setiap wahyu kenabian yang tidak masuk akal manusia lantas ditolak. Sebab wahyu itu (terkadang—pen)datang dengan hal yang membingungkan, tetapi bukan hal yang dimustahilkan.” [Zhulumat Abu Rayyah hal.297]

Maka, ketika anda mendapati kontradiksi dalam syariat ini, jangan anda langsung mengatakan syariat memiliki kontradiksi. Sebab itu adalah kebodohan. Jika ada permasalahan yang terlihat bernuansa kontradiksi, maka kompromi adalah solusi. Namun jika anda belum mampu, serahkan kepada sang ahli. Para ulama Salaf tentunya, benar?

Surabaya, 30 Dzul Qa’dah 1431

Ditulis oleh Brilly El-Rasheed (brillyyudhowillianto@gmail.com)

Copy Right © 1431 Brilly El-Rasheed

Disebarkan oleh www.thaybah.or.id

(1) Pimred majalah TAUHIDULLAH; (2) Pimred majalah dan buletin AS-SHOLIHIN, (3) redaktur pelaksana majalah AL-AKHBAR, (4) editor dan layouter majalah AL IHSAN, (5) reporter majalah MEDIAN LPMP Jawa Timur, (6) kontributor lepas majalah AR-RISALAH, (7) kontributor tetap majalah LENTERA QOLBU, (8) kontributor lepas di majalah ELFATA, (9) editor in chief majalah digital QUANTUM FIQIH, (10) konseptor dan mantan redaktur pelaksana majalah FITHRAH, (11) mantan layouter sekaligus pimred buletin Jum’at THAYBAH, (12) redaktur penerbit PT. EFMS, (13) admin salah satu situs berita Islam Nasional dengan 20.000 visit/hari), (14) online marketing UD. SBY CORPORATION, (15) pengasuh situs THAYBAH.ID, (16) promotor penerbitan majalah donatur, (17) redaktur pelaksana majalah SUARA MASKUMAMBANG, (18) redaktur pelaksana majalah SEJAHTERA dan buletin jumat YATIM SEJAHTERA, dan (19) mengasuh 2 website dan belasan blog keislaman yang ‘hidup segan mati tak mau’ sebagai salah satu cara merehatkan diri, serta (20) penulis buku GOLDEN MANNERS, KUTUNGGU DI TELAGA AL-KAUTSAR, MENDEKAT KEPADA ALLAH, QUANTUM IMAN, yang bisa Anda dapatkan di Gramedia atau toko buku lainnya.

Rekomendasi Artikel

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*